Dosen ICP FMIPA UNM dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Kelas Bilingual Berbagi Inspirasi di Podcast Internasional, Malaysia


Dosen International Class Program (ICP) dan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Kelas Bilingual/ICP kembali menorehkan partisipasi aktif di kancah internasional. Mereka mendapat undangan kehormatan untuk tampil dalam sebuah program gelar wicara (podcast) pendidikan lintas negara yang diselenggarakan oleh Institut Pendidikan Guru (IPG) Kampus Tun Abdul Razak, Kota Samarahan, Sarawak, Malaysia.

Siniar bertajuk “Wacana Ilmu Bil.6/2026 – Pengalaman Menjadi Pendidik: Kisah Dari Sarawak dan Sulawesi” tersebut menjadi ajang pertukaran wawasan yang inspiratif. Delegasi mahasiswa dari Universitas Negeri Makassar (UNM) diwakili oleh Miftah Nurrazzaq dan Fify Alya Sa’dliani. Keduanya didampingi langsung oleh dosen Jurusan Matematika UNM, Muhammad Ammar Naufal, Ph.D.

Dalam program tersebut, Muhammad Ammar Naufal, Ph.D. tampil pada sesi awal untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai struktur pendidikan calon guru di Indonesia, khususnya di UNM. Ia menjelaskan mekanisme pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) atau praktikum, micro-teaching, hingga membedakan antara fase praktikum mahasiswa program sarjana (undergraduate) dengan mahasiswa Program Profesi Guru (PPG). Penjelasan ini memberikan perspektif baru bagi para akademisi di Sarawak mengenai sistem pendidikan yang berlaku di Sulawesi.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman mengajar dari para mahasiswa. Fify Alya Sa’dliani, yang melaksanakan praktikum di sekolah terintegrasi teknologi untuk siswa Kelas 10, menyoroti pentingnya membangun kedekatan emosional. Ia membagikan pengalamannya bahwa pendekatan emosional di minggu-minggu pertama adalah kunci agar siswa lebih terbuka dan mudah menerima materi pembelajaran matematika yang sering kali dianggap kaku.

Sementara itu, Miftah Nurrazzaq membagikan pengalaman dan tantangan uniknya mengajar matematika pada siswa kelas 7 di sekolah bertaraf internasional. Miftah harus beradaptasi dengan penerapan dua kurikulum sekaligus, yakni Kurikulum Nasional dan Kurikulum Cambridge, serta mengajar secara full menggunakan bahasa Inggris. Ia menekankan bahwa dalam kurikulum Cambridge, mengajar matematika bukan sekadar soal menyampaikan rumus untuk mendapat jawaban akhir, melainkan membimbing siswa memahami konsep dan mengomunikasikan proses berpikir kritis mereka.

Di dalam forum tersebut, Miftah dan Fify juga bertukar cerita dengan dua guru pelatih (calon guru) asal Sarawak, Malaysia, yakni Eliana dan Sharifah. Mereka saling membahas realita di lapangan, seperti rasa gugup saat diobservasi oleh dosen pembimbing (guru pamong), pentingnya memiliki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) cadangan (Plan B), hingga urgensi menjadi guru yang fleksibel ketika rencana pembelajaran di kelas tidak berjalan 100 persen sesuai harapan.

Kehadiran dosen dan mahasiswa Pendidikan Matematika kelas Bilingual/ICP UNM dalam siniar internasional ini tidak hanya mempererat ikatan pendidikan antara Sulawesi dan Sarawak, tetapi juga menjadi bukti nyata kiprah mahasiswa Indonesia di forum global. Pesan penutup dari perbincangan ini pun sangat kuat: calon pendidik tidak boleh takut melakukan kesalahan, karena setiap pengalaman di kelas adalah proses refleksi untuk menjadi guru yang lebih baik.

Siaran penuh perbincangan lintas negara yang sarat akan ilmu pedagogi ini dapat disaksikan melalui tautan: https://www.youtube.com/watch?v=4Mzh68axwWU.

Translate ยป